infoMBG.id – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak hanya bertujuan mencetak Generasi Emas 2045, tetapi juga membawa angin segar bagi pertumbuhan perekonomian daerah. Lantas, apa rahasia utama agar distribusi program gizi masif ini bisa berjalan mulus, berkualitas, dan tepat sasaran? Jawabannya jelas: kekuatan rantai pasok dari hulu ke hilir!
Baru-baru ini, Badan Gizi Nasional Republik Indonesia (BGN RI) merilis sebuah cuplikan diskusi strategis melalui episode terbaru BGN Talks di akun TikTok resmi mereka (@badangizinasional.ri). Dalam tayangan berkonsep podcast interaktif tersebut, Host Zara melakukan perbincangan mendalam bersama H. Haris Setiawan, selaku Direktur Utama Perumda Pasar Tohaga.
Membangun Kemandirian Lewat Pasar Daerah
Tayangan video ini menyoroti fokus perbincangan strategis mengenai langkah-langkah nyata membangun ekosistem pangan lokal yang solid. Kolaborasi dengan entitas seperti Perumda Pasar Tohaga dinilai sebagai langkah jitu oleh pemerintah.
“Keberhasilan program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak lepas dari kuatnya rantai pasok dan ekosistem pangan di tingkat lokal. Jika hulu dan hilirnya kuat, pendistribusian gizi pun akan berjalan optimal dan berdampak panjang,” ungkap Haris.
Melalui ekosistem yang terintegrasi, kebutuhan bahan pokok untuk dapur-dapur MBG diserap langsung dari para petani dan pedagang pasar daerah. Hal ini memastikan bahwa masyarakat tidak hanya mendapat jaminan ketersediaan bahan pangan yang berkualitas, tetapi roda ekonomi daerah juga ikut berputar dan tumbuh dengan pesat seiring berjalannya program.
Lebih lanjut, diskusi ini juga menjawab tantangan mengenai multiplier effect dari program MBG: “Bagaimana kolaborasi ini mampu menggerakkan roda ekonomi daerah sekaligus menjamin ketersediaan bahan pangan berkualitas untuk masyarakat yang menjadi tujuan jangka panjang program ini.,” pungkasnya. (FIQ)








