Wartawan: M. Nur Rofiq
infoMBG.id — Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta mendadak menjadi pusat perhatian nasional usai dilaksanakannya prosesi pelantikan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) yang baru, Sudaryono. Dilantik langsung oleh Presiden Prabowo Subianto, mantan Wakil Menteri Pertanian ini resmi mengemban amanah besar untuk memimpin lembaga strategis yang mengelola anggaran dan program pemenuhan gizi raksasa di seluruh pelosok Indonesia. Pelantikan ini menandai babak baru dalam komitmen pemerintah untuk mempercepat penanganan masalah gizi buruk, pencegahan stunting, sekaligus penguatan kualitas sumber daya manusia menuju Indonesia Emas.
Dalam keterangan pers pertamanya usai mengucap sumpah jabatan, Kepala BGN Sudaryono tak membuang waktu untuk memaparkan gebrakan utamanya. Kebijakan prioritas pertama yang ia tegaskan adalah merombak total transparansi tata kelola internal di BGN dan menutup rapat segala bentuk celah penyelewengan. Menyadari besarnya alokasi dana APBN yang dialokasikan untuk program Makan Bergizi Gratis, ia mengeluarkan peringatan terbuka dan keras kepada masyarakat agar tidak tergiur oleh oknum-oknum yang mencoba mengambil keuntungan pribadi dengan mencatut namanya atau mengklaim memiliki jalur “orang dalam”.
“Saya ingin menekankan secara publik bahwa saya memiliki keluarga, sahabat, teman, alumni, dan seterusnya. Kalau nantinya ada orang misalnya menawarkan jasa, barangkali dengan imbalan, ngaku-ngaku orang saya, keluarga saya, sahabat saya, teman saya, alumni bersama saya yang dirasa tidak sesuai, saya pastikan itu tidak benar! Dan saya minta kepada yang bersangkutan itu kemudian dilaporkan kepada pihak yang berwajib.” ungkap Sudaryono
Gebrakan Baru Kepala BGN Sudaryono
Lebih lanjut, Sudaryono menekankan bahwa gebrakan transparansi ini mencakup penghentian seluruh praktik kesepakatan terselubung atau diskusi non-formal di luar mekanisme resmi. Menurutnya, seluruh keputusan pengadaan, rantai pasok, hingga sistem penyerapan bahan baku harus dibuka seluas-luasnya di hadapan publik agar dapat diawasi bersama oleh masyarakat sipil, aparat penegak hukum, hingga media massa. Prinsip zero tolerance diusung sebagai harga mati dalam menjalankan roda organisasi Badan Gizi Nasional ke depan.
“Kita bukan lagi ‘trust in person’, kemudian kita bicara di ruang-ruang yang remang-remang yang gelap di ‘private room’ di restoran, tapi segala sesuatu harus dibahas di ruang-ruang yang terang dan transparan dan dilihat orang. Doakan kami semua untuk bisa amanah dan menjalankan program ini dengan sebaik-baiknya, zero tolerance untuk praktik-praktik korupsi, henky-penky, dan copet-copetan sebagaimana ini yang paling dibenci oleh seluruh rakyat Indonesia.” imbuh Kepala BGN yang menggantikan Nanik tersebut.
Gebrakan strategis lain yang siap dieksekusi oleh Kepala BGN baru ini adalah pengintegrasian rantai pasok pangan secara langsung dengan para produsen lokal di tingkat pedesaan. Berbekal pengalamannya di sektor pertanian, Sudaryono menggarisbawahi bahwa program gizi nasional tidak boleh dipandang sebatas kegiatan pembagian makanan cuma-cuma, melainkan sebuah ekosistem ekonomi berputar. Penyerapan komoditas seperti telur, daging ayam, sayur-mayur, hingga ikan akan difokuskan dari petani, peternak, dan nelayan setempat guna membakar roda perekonomian daerah sekaligus menjamin ketersediaan bahan baku yang segar dan kaya nutrisi bagi anak-anak serta ibu hamil.(FiQ)
